Seorang Anak di Jember Terlantarkan Ibu nya Karena Tak Dapat Warisan

  • Share

Kanalmedia.id – Beredarnya foto seorang ibu (nenek) yang disebutkan telah dibuang oleh anaknya disekitar area Perumahan Argopuro, diwilayah Kaliwates, pada jumat (2/2/24), menjadi kabar buruk bagi kehidupan sosial masyarakat, khususnya diwilayah Kabupaten Jember.

Seperti sudah diberitakan media ini sebelumnya, setidaknya ada dua alasan yang mendasari kedua anaknya menolak merawat nenek yang diketahui bernama Hj. Siti Hatijah (75) itu, karena mereka tidak mendapatkan warisan dari si Ibu, serta merasa ditelantarkan juga dahulu ketika mereka masih anak-anak.

Keterangan tersebut selain didapat dari video penolakan yang berhasil didapatkan redaksi Pak JITU.com, ketika pihak Dinas Sosial Kabupaten Jember berupaya memediasi dan mengantar Hatijah kerumah anak laki-lakinya Rifa’i, diwilayah dusun Krajan, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari.

Juga terkonfirmasi dari hasil Assesment (pengumpulan informasi) oleh pihak Unit Pelaksana Teknis Daerah Lingkungan Pondok Sosial (UPTD Liposos) Kabupaten Jember.

“Yang perlu saya klarifikasi terlebih dahulu adalah tidak benar bahwa Ibu ini dibuang anaknya di Perumahan Argopuro, yang benar ibu itu keluar dari Liposos tanpa sepengetahuan kami, dan kemudian ada kabar bahwa ibu tersebut ada di Argopuro,” jelas Roni Efendi Kepala Liposos Kabupaten Jember, senin (5/2/24).

“Kami mendapat laporan tentang keberadaan Ibu Hatijah ini pada 29 Januari 2024, saat itu juga kami lakukan Assesment dengan mendatangi lokasi, lalu dilakukan mediasi bersama unsur pemerintah setempat mulai RT/RW, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan dari pihak Kecamatan Bangsalsari,” imbuhnya.

Lebih lanjut Roni menjelaskan bahwa waktu itu pihaknya menurunkan 5 personil dan 1 diantaranya siswa magang, “Kami sepakat melakukan mediasi dengan anak korban yang ada di Desa Sukorejo, karena dari informasi awal anak klien yang di Sukorejo ini secara ekonomi mampu, namun disana terjadi penolakan, alasannya karena dulu ia juga merasa ditelantarkan, ditinggal merantau, dan tidak dapat warisan,” beber Roni.

Roni juga menjelaskan dari hasil assesmemt diketahui, Hj. Siti Hatijah ini merantau ke Lampung pada 1980, dengan meninggalkan 2 anaknya yang masih kecil, yang diperkirakan anak tertua waktu itu masih usia SMP dan adiknya yang disukorejo itu masih usia SD.

“Kembali ke rumah pada september 2023, sejak itu ia tinggal bersama saudaranya diwilayah Dusun Krajan, Desa Tugusari, namun karena saat ini saudara korban ini juga sudah tua dan sudah sakit-sakitan dan sudah tidak sanggup lagi merawat klien, akhirnya atas kesepakan saudara dan warga sekitar diantarkanlah klien ke anak pertamanya yang ada di Kencong, namun hanya semalam disana, klien sudah ditemukan berada di Desa Tugusari lagi, keterangan dari Klien ia diturunkan dijalan,” terang Roni.

“Dari sini kemudian kami dikabari oleh warga, dan kami lakukan assesment waktu itu juga, hingga memediasi ke anaknya yang disukorejo itu, namun gagal jadi Klien kami bawa Ke sini,” imbuhnya.

Ditanya tentang tanggapannya dengan kejadian tersebut, Roni mengaku miris, “Seburuk apapun orang tua kita dia tetap orang tua kita, apalagi ini ibu, yang surga ada ditelapak kakinya,” katanya.

Diakhir wawancara Roni menjelaskan kalau tidak ada yang menjemput untuk dirawat, pihaknya akan mengirim Hj. Siti Hatijah ke UPT PSTW (Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Lanjut Usia) Kabupaten Bondowwoso, “Kalau di Liposos ini hanya tempat penampungan sementara, sudah dijadwalkan dalam minggu ini,” pungkasnya.

  • Share